that's all my frens

that's all my frens
hmm...nostalgia. I'll never forget it..

Jumat, 23 Oktober 2009

MEMAHAMI PRIA

Bagaimana cara memahami pria??



Tuhan memang menciptakan manusia,”laki-laki dan perempuan”, dua jenis manusia, bukan satu. Di samping persamaan, juga terdapat perbedaan di antara pria dan wanita. Pernikahan yang berciri, “satu daging”, ditandai oleh kuatnya pemahaman dan penerimaan akan perbedaan-perbedaan ini. Khusus dalam edisi ini, saya membatasi ulasan saya pada satu kualitas pria saja. Mudah-mudahan informasi ini dapat membantu pria memahami dirinya secara lebih akurat dan menolong wanita, terutama istri, mengerti serta menerima para suami dengan penuh kasih sayang.

Pada dasarnya pria adalah makhluk yang angkuh. Sebelum para rekan pria menyanggahnya, terlebih dahulu saya akan menjelaskan alasan dan latar belakang pemikiran saya. Sejak kecil, lingkungan sudah mengkondisikan pria untuk menjadi seseorang yang tegar. Kehormatan seorang pria terletak pada kekuatan atau ketegarannya. Pria dididik untuk bisa mengatasi segala sesuatu sehingga tanpa disadarinya, ia pun mulai menyakini bahwa kehormatan dirinya bertumpu pada kemampuannya. Ketidaksanggupannya mengatasi tantangan diidentikkan dengan kelemahannya. Kegagalan merupakan suatu aib yang memalukan harga dirinya. Prinsip hidupnya dapat disarikan dalam satu kalimat, “Saya bisa melakukannya.” Berlandaskan pandangan inilah saya mendasarkan pengamatan saya tadi tentang keangkuhan pria. Menurut saya, keangkuhan pria sangat berkaitan dengan kemampuannya, atau lebih tepat lagi, dengan keengganannya mengakui kekurangmampuannya.

last-man-standingDi dalam pernikahan, keangkuhan pria biasanya mempengaruhi dua aspek kehidupan, yakni finansial dan seksual. Di dalam kedua hal ini pria berupaya keras agar ia mencapai puncak keberhasilan yang selayaknya. Kegagalannya atau perasaan bahwa ia telah gagal dalam kedua hal ini dapat membuatnya depresif. Kedua aspek kehidupan ini acap kali berperan sebagai tolok ukur harga dirinya. Tatkala ia merasa bahwa istrinya terpuaskan baik secara finansial maupun seksual, ia pun merasa bangga. Sebaliknya, ketidakpuasan istri dalam kedua areal kehidupan ini bisa mendorongnya menjadi minder. Alhasil, ia pun mulai meragukan kelaki-lakiannya atau lebih spesifik lagi kemampuannya menjadi seorang laki-laki.

Di sinilah letak salah satu perbedaan antara pria dan wanita. Untuk menjadi seorang wanita, perempuan tidaklah perlu “menjadi” wanita karena secara alamiah (biologis) ia sudah wanita. Tidak demikian halnya dengan pria. Meski secara jasmani ia sudah seorang pria, namun secara sosiologis dan psikologis ia perlu membuktikan dirinya terlebih dahulu sebelum ia memperoleh pengakuan bahwa ia adalah seorang pria. Pembuktian dirinya itu biasanya dialaskan atas keberhasilan dan kemampuannya. Pembuktian dirinya sebagai pria pada umumnya berkisar pada keberhasilannya dalam kedua hal tadi, yakni finansial dan seksual.

Kegagalannya memenuhi kebutuhan finansial dan seksual istrinya sesungguhnya melukai kehormatan dirinya. Ada pria yang berhasil mengalahkan keangkuhannya dengan cara mengakui keadaan diri yang sebenarnya di hadapan istri terkasih. Namun tidak sedikit yang menempuh jalan belakang. Ada yang berkompensasi berubah menjadi kasar, seakan-akan ia tidak membutuhkan istrinya; ada yang menarik diri dan hidup bak pertapa di rumah tangganya sendiri.

Keengganan pria mengakui kekurangmampuannya bersumber dari ketakutannya bahwa ia tidak lagi “dianggap pria”. Satu komentar tentang wanita yang adakalanya saya dengan dari sesama pria adalah, “Wanita itu materialistik.” Sudah tentu keabsahan persepsi ini dapat diperdebatkan siang dan malam, tetapi yang penting ialah, persepsi ini ada di benak sebagian pria. Tidak bisa tidak, bagi sebagian pria jalan untuk mengendalikan istri adalah melalui cara materialistik. Tujuan pertama-nya memang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun tujuan utama-nya belum tentu itu. Bisa jadi, tujuan utamanya adalah untuk menjaga wibawa atau kehormatan dirinya di mata istrinya. Oleh sebab itulah, keluhan istri yang berbau finansial mudah sekali ditafsir sebagai penghinaan terhadap dirinya.

Pria juga ingin berhasil secara seksual. Masalahnya ialah, secara jasmani pria berlari ke arah klimaks, sedangkan wanita berjalan ke arah klimaks. Maksud saya, wanita membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding pria untuk mencapai puncak kepuasan seksual. Akibatnya, acap kali pria mencapai klimaks terlebih dahulu sendangkan wanita tertinggal di belakang. Hal ini dapat melahirkan perasaan cemas pada diri pria sewaktu berhubungan dengan istri, apalagi jika pria melihat rona kekesalan atau kejengkelan pada istrinya. Komentar istri terhadap performa suaminya di tempat tidur mudah sekali menimbulkan rasa minder pada diri si suami. Jalan terbaik mengatasi masalah ini adalah dengan memperlambat tingkat perangsangan pada diri pria dan sekaligus memberi prioritas pada perangsangan istri.

Salah satu kemalangan yang saya lihat di dalam hidup ini ialah pria kerap kali terjebak di dalam keangkuhannya sendiri. Pria merindukan kemerdekaan; pria ingin hidup bebas dan apa adanya, tanpa embel- embel pembuktian diri. Namun apa ada daya, ia pun harus hidup di dalam lingkup sosialnya. Konsep dirinya yang beralaskan pekikan “Aku bisa!” menyulitkannya berbisik dengan lirih,”Aku tak bisa.” Ia pun akhirnya memilih menjauh dari hidup merdeka dan otentik. Sayang sekali, kemerdekaan terlalu dikaitkan dengan kemenangan. Tantangan hidup pria sekaligus pertanyaan yang saya ingin ajukan kepada sesama rekan pria adalah, “Bolehkah kita merdeka untuk kalah?”

Pria tidak selalu keluar dari arena finansial dan seksual sebagai pemenang; sebaliknya, tidak semua tanggapan istri (bahkan sedikit lagi yang) bertujuan untuk mempermalukan atau menghina kehormatan dirinya di hadapan Tuhan, yakni dengan cara hidup menyenangkan hati Tuhan. Integritas pria di hadapan Tuhan adalah kehormatan dirinya, lepas dari kemungkinan apakah wanita akan menghargainya ataukah tidak. Saya percaya pada prinsip Firman Tuhan yang mengemukakan bahwa siapa menabur, ia menuai. Apabila pria menabur pola,”Hormatilah diriku karena aku kaya dan jantan”, maka tanpa disadarinya, ia pun sedang mengkondisikan istrinya untuk menghormatinya atas dasar kekayaan dan ketangguhan seksualnya belaka. Akhirnya, ia pun hanya akan menuai respek istri yang dangkal dan terkotak-kotak, yang tidak melihat dan menerima dirinya secara utuh.

Keangkuhan menuntut penghormatan,kerendahan diri yang tepat membuahkan keagungan ilahi. Sebagai duta Kristus di rumah tangga kita, seyogianyalah kita, para pria, mencerminkan keagungan Tuhan.
ria

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar